image
Khalifah-khalifah Di Masa Kejayaan
al-Walid bin Abdul Malik Khalifah al-Walid sangat perhatian dengan pembangunan masjid di wilayah-wilayah kekuasaan Bani Umayyah. Di antara kebijakan strategis lainnya yang ia lakukan adalah pembangunan jalan raya menuju Hijaz (daerah yang meliputi Jeddah, Mekah, dan Madinah) untuk memudahkan jamaah haji bersafar menuju daerah tersebut. Ia juga memerintahkan Gubernur Madinah, yang saat itu dijabat oleh Umar bin Abdul Aziz, untuk menggali sumur-sumur di Madinah dan menyiapkan petugas khusus untuk memberi minum jamaah. Untuk memperkuat militer, ia mengangkat seorang yang keras seperti Hajjaj bin Yusuf. Meskipun Hajjaj adalah sosok yang kontroversi, namun Hajjaj berhasil memunculkan orang-orang seperti Muhammad al-Qashim dan Qutaibah bin Muslim yang berhasil menaklukkan berbagai wilayah. Pada masa pemerintahan al-Walid juga muncul pahlawan-pahlawan semisal Musa bin Nushair dan Thariq bin Ziyad. Secara umum, masa pemerintahannya adalah masa-masa yang stabil. Umat Islam berhasil mencapai Cina di Timur hingga Andalus di Barat. Al-Walid bin Abdul Malik wafat pada pertengahan bulan Jumadil Akhir tahun 96 H. Ia menunjuk saudaranya Sulaiman bin Abdul Malik sebagai khalifah setelahnya. Sulaiman bin Abdul Malik Sulaiman bin Abdul Malik adalah seorang khalifah yang shaleh. Hal itu terlihat dari pidatonya saat diangkat menjadi khalifah. Dari Jabir bin Aun al-Asadi, ia berkata, “Kalimat pertama yang disampaikan Sulaiman bin Abdul Malik dalam pidatonya saat dikukuhkan sebagai khalifah adalah: “Segala puji bagi Allah, segala yang Dia kehendaki terjadi. Apa yang Dia inginkan terangkat, maka terangkat. Apa yang Dia mau terjatuh, maka terjatuh. Orang yang Dia kehendaki, maka Dia beri dan orang yang Dia kehendaki (untuk tidak mendapatkan), maka ia terhalangi. Dunia ini adalah negeri yang menipu. Wahai hamba Allah, jadikanlah kitab Allah sebagai imam, ridhailah hukum yang ditetapkannya. Jadikanlah ia sebagai pemimpin. Ia adalah kitab yang telah menghapus hukum-hukum sebelumnya dan tidak akan ada kitab setelahnya yang menghapus hukumnya.” Bukti keshalehan lainnya adalah terlihat dari teman-teman dekatnya yang ia jadikan sebagai penasihat seperti Umar bin Abdul Aziz dan tokoh tabi’in Raja’ bin Haiwah. Pada tahun 97 H, Amirul Mukminin Sulaiman bin Abdul Malik menunaikan ibadah haji bersama Umar bin Abdul Aziz. Di hari Arafah, Sulaiman dan Umar wukuf di Arafah. Sulaiman merasa bahagia dengan banyaknya umat Islam yang berkumpul memenuhi panggilan Allah. Sulaiman berkata kepada Umar, “Lihatlah mereka, yang jumlahnya hanya Allah saja yang bisa menghitungnya. Tidak ada yang menanggung rezeki mereka kecuali Allah”. Umar bin Abdul Aziz menanggapinya, “Mereka adalah rakyatmu hari ini, tetapi besok kamu akan ditanya tentang mereka.” Dalam riwayat lain, “Mereka adalah orang-orang yang akan menuntutmu di hari kiamat.” Tiba-tiba Sulaiman menangis, nasihat Umar benar-benar menghujam di dadanya, ia berkata, “Hanya kepada Allah aku memohon pertolongan.” (al-Bidayah wa an-Nihayah, 12: 685). Muhammad bin Sirrin rahimahullah berkata tentang Sulaiman bin Abdul Malik, “Ia mengawali dan mengakhiri kekhalifahannya dengan kebaikan. Ia mengawalinya dengan membuat aturan wajib shalat di awal waktu dan mengakhirinya dengan mengangkat Umar bin Abdul Aziz”. Sulaiman wafat pada bulan Shafar tahun 99 H. Ia menunjuk sepupunya, Umar bin Abdul Aziz, sebagai penggantinya. Umar bin Abdul Aziz Rasa-rasanya tidak perlu penulis bertutur panjang tentang Umar bin Abdul Aziz pada kesempatan kali ini. Karena beliau sudah cukup dikenal dan tidak diingkari kemuliaannya. Secara singkat, Umar bin Abdul Aziz mengawali pemerintahannya pada Bulan Shafar tahun 99 H dan berakhir dengan wafatnya pada Bulan Rajab 101 H. Berbagai macam kesuksesan yang diraih dalam pemerintahannya dan sedemikian hebatnya ia berhasil memakmurkan rakyatnya tidak terlepas dari usaha-usaha yang dirintis oleh khalifah-khalifah sebelumnya.