Dialog Tentang Benteng Umat
Suatu hari, Umar bin al-Khattab berdialog dengan Hudzaifah bin al-Yaman, ra. Hudzaifah adalah seorang sahabat yang banyak dibisiki rahasia umat oleh Rasulullah Saw.
Hudzaifah berkata: Kami pernah duduk bersama ibn al-Khattab ra. Kemudian ia bertanya, “Siapa di antara kalian yang menghafal hadits Rasulullah Saw tentang fitnah (perpecahan umat)?”
“Aku menghafalnya”, jawabku.
Kemudian ia berkata, “Coba sebutkan! Sesungguhnya engkau adalah seorang pemberani.”
“Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, ‘Fitnah seseorang pada keluarganya, hartanya, dan tetangganya bisa dihapuskan dosanya dengan shalat, sedekah, dan mengajak kepada yang makruf dan melarang yang mungkar’, jawabku.
Umar mengomentari, “Bukan itu yang ku-inginkan. Yang kumaksudkan adalah fitnah yang datang bergelombang seperti gelombang lautan!”
Umar bertanya tentang permasalahan besar yang silih berganti menimpa umat ini.
“Engkau tidak bermasalah dengannya wahai Amirul mukminin, sesungguhnya di antaramu dan fitnah itu ada pintu yang tertutup.” Jawabku. Artinya Umar tidak akan mengalami fase tersebut.
Umar bertanya, “Apakah pintunya didobrak atau dibuka?”
“Didobrak,” jawabku.
Umar paham, pintu yang didobrak, maka akan rusak. Tidak akan bisa ditutup kembali. Ia berakta, “Didobrak itu lebih parah keadaannya. Karena selamanya ia tak akan tertutup. Hingga kiamat tiba”. Artinya perpecahan umat ini akan terus terjadi. Seperti gulungan ombak yang selalu susul-menyusul tiada berhenti. Menjadi tantantangan bagi umat Islam hari ini, mencari, manakah jalan kebenaran yang hakiki.
Kemudian orang yang meriwayatkan atsar ini dari Hudzaifah, Abu Wail, bertanya, “Apakah Umar tahu siapakah yang dimaksud dengan pintu itu?”
Hudzaifah menjawab, “Iya. Sebagaimana ia tahu penghalang hari ini dan esok adalah malam. Aku menyebutkan sebuah perkataan yang tidak ada kekeliruan.” Artinya Umar tahu persis akan hal itu.
Abu Wail mengatakan, “Kami suruh Masruq (Masruq bin Ajda, seorang tabiin) bertanya pada Hudzaifah. Ia pun bertanya, “Siapa pintu itu?” Hudzaifah menjawab, “Umar.”
Apa yang disampaikan oleh Hudzaifah bukanlah sebuah rekaan. Atau hanya prediksi yang dikarang. Tapi ia menyampaikan pesan dari Rasulullah Saw. Dan Umar bin al-Khattab pun paham, pintu itu adalah dirinya. Tentu ia tak akan lupa bahwa Rasulullah Saw menyebutnya sebagai syahid. Ia akan terbunuh.
Anas bin Malik berkata, “Rasulullah naik ke bukit Uhud bersama Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Lalu Uhud bergetar. Rasulullah Saw menghentakkan kakinya ke Uhud dan berkata, ‘Tenanglah (jangan bergetar) Uhud! Sesungguhnya di atasmu ada seorang nabi, shiddiq (Abu Bakar), dan dua orang syahid (Umar dan Utsman).” (HR. al-Bukhari dalam Kitabul Fitan No. 7096).
