Wanita Istimewa: Ummu Hani' Binti Abi Thalib
Fakhitah binti Abi Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim, merupakan sepupu Rasulullah Saw. Beliau adalah anak dari paman Rasulullah Saw, yaitu Abu Thalib. Fakhitah atau biasa yang di sapa dengan Ummu Hani’ adalah Hindun. Tapi yang populer dan banyak periwayatannya adalah Fakhitah.
Pada saat orang tua dan kakek Rasulullah Saw wafat, sang pamanlah yang merawatnya dengan penuh kasih sayang. Kemudian Rasulullah Saw membalas kasih sayang pamannya itu dengan memberi perhatian dan cinta kepada sepupu-sepupunya yang masih kecil.
Ada riwayat yang menyatakan kalau sebelum masa kerasulan, Rasulullah Saw pernah melamar Fakhitah. Namun Abu Thalib menolak tawaran itu. Dan menerima pinangan Hubayra bin Abi Wahb. Karena bani Makhzum, klan Hubayra, pernah menikahkan putri mereka dengan salah seorang dari kabilah Abu Thalib. Sehingga untuk menjaga hubungan baik, kabilah Abu Thalib membalas perlakuan itu. Nilai inilah yang berlaku dalam tradisi Arab pada masa itu.
Akhirnya Fakhitah menikah dengan Hubayra. Pasangan ini tinggal di Mekah dan dikaruniai empat orang anak. Yang tertua bernama Hani’. Karena itu Fakhitah dikenal dengan Ummu Hani’ (ibunya Hani’). Namun sayang, sang suami enggan memeluk Islam. Saat Fathu Mekah, ia lari keluar Mekah. Enggan memeluk Islam.
Ummu Hani’ pernah menemui Rasulullah Saw di hari penaklukan Kota Mekah. Ia menceritakan, “Aku pergi menemui Rasulullah Saw pada tahun penaklukkan Kota Mekah. Saat itu beliau sedang mandi. Dan putrinya Fatimah menutupinya (dengan tabir). Kuucapkan salam. Beliau (di balik tabir) bertanya, ‘Siapa itu?’ ‘Aku, Ummu Hani’ binti Abi Thalib’, jawabku. ‘Marhaban Ummu Hani’, sambut beliau.
Usai mandi beliau menunaikan shalat 8 rakaat dengan berbalut satu pakaian. Setelah shalat, aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, saudaraku (Ali bin Abi Thalib), ingin membunuh seseorang yang aku lindungi, Fulan bin Hubayra’. Rasulullah Saw bersabda, ‘Sungguh kami melindungi orang yang engkau lindungi wahai Ummu Hani’’. ‘Jika demikian jelas masalahnya’, jawab Ummu Hani’. (HR. al-Bukhari juz: 5. Hal: 2280).
Ketika Ummul Mukminin Khadijah wafat, Rasulullah Saw merasa begitu sedih. Dalam keadaan itu, beliau sering menemukan penghiburan di rumah Ummu Hani’. Keluarganya mendukung dan menghiburnya saat beliau sedang berkabut duka.
Ummu Hani’ adalah sosok penting dalam sejarah Islam. Dari rumahnya, di bawah atap yang menjadi langit keluarganya, sebuah kemukjizatan pernah terjadi. Kediamannya yang penuh berkah menjadi saksi peristiwa Isra Mi’raj. Nabi Muhammad Saw datang ke rumah Umm Hani’, melakukan shalat malam lalu tidur di sana. Malam itu, rumah Ummu Hani’ dikunjungi malaikat paling mulia, Jibril ‘alaihissalam, untuk menjemput Nabi Muhammad Saw. Dari sanalah peristiwa Isra Mi’raj bermula. Perjalanan satu malam menuju Jerusalem dan Sidratul Muntaha dimulai. Saat fajar tiba, Nabi pun kembali ke tempat yang sama. Kemudian Nabi Saw mengabarkan Ummu Hani’ tetang perjalanannya. Ia pun mengimani sabdanya.
Hadits-Hadits Yang Diriwayatkan Ummu Hani’. Yaitu:
Pertama: Dari Abdurrahmaan bin Abi Laila. Ia berkata, “Tidak ada seorang pun yang menceritakan kepadaku bahwa ia melihat Nabi Saw melakukan shalat Dhuha kecuali Ummu Haani’. Sungguh ia pernah mengatakan, “Sesungguhnya Nabi Saw pernah masuk ke rumahnya pada hari Fathu Mekah, lalu beliau mandi dan melakukan shalat delapan rakaat. Aku tidak pernah melihat shalat yang lebih ringan daripada itu, namun beliau tetap menyempurnakan rukuk dan sujudnya.” (HR. al-Bukhari no. 1176).
Kedua:Dari Ummu Hani’. Nabi Saw berpesan kepadanya, “Peliharalah kambing wahai Ummi Hani’, karena ia pergi dengan kebaikan dan kembali dengan kebaikan.” (HR. Ahmad No.25667).
