image
Peranan Khadijah Saat Rasulullah Saw Menerima Wahyu
Setelah menerima wahyu pertama di Gua Hira, Rasulullah Saw kembali ke rumah untuk menemui istrinya, Khadijah, dalam keadaan ketakutan. Beliau duduk di sisi istrinya lalu semakin merapat padanya. Sebagaimana disebutkan dalam satu riwayat: Rasulullah Saw bersabda: “Aku duduk di sisinya kemudian bersandar padanya.” Beliau ceritakan semua yang ia lihat dan alami kepada istrinya. Melihat Jibril dan diseru menjadi seorang utusan Allah (rasulullah). Dari peristiwa ini setidaknya dapat kita petik dua pelajaran tentang menjalani kehidupan berumah tangga. Peranan istri dan juga keterbukaan suami. Dua hal yang menjadi penyebab langgengnya rumah tangga. Pertama: Khadijah memerankan peranan utamanya sebagai istri. Ia menjadi tempat berbagi untuk suami. Ia mampu membuat suami yang sedang dirundung gundah menjadi tenang. Khususnya ketika menghadapi masalah besar. Allah SWT telah menyebutkan sifat demikian dalam firman-Nya:“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram (sakinah) kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS:Ar-Ruum | Ayat: 21). Peranan utama antara pasangan suami istri adalah membuat tenang pasangannya. Allah SWT mengulangi sifat ini dalam ayat yang lain:“Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang (sakinah) kepadanya.” (QS:Al-A’raf | Ayat: 189) Jadi, peranan utama seorang istri adalah membuat suami menjadi sakinah, tenang. Suami butuh ketenangan setelah hiruk pikuk yang terjadi di luar rumah dan di dunia kerja. Setelah merasakan tekanan di kantor. Atau menghadapi rumitnya lika-liku dakwah. Ia bekerja dan berjihad di jalan Allah SWT. Kedua: Rasulullah Saw seperti halnya seorang suami pada umumnya. Ia mengadukan rasa gundah dan permasalahannya kepada istri bahkan menceritakannya dengan detil. Bermusyawarah dan menerima saran darinya. Rasulullah Saw tidak melupakan peranan sang istri. Rasulullah Saw menjadikan istri sebagai penguat dan memberinya kepercayaan. Kedua hal ini, jika diterapkan secara baik tentu akan menjadikan rumah tangga sebagai tempat yang bahagia.