Tanggapan Luar Biasa Dari Khadijah Untuk Nabi Muhammad Saw
Ketika Rasulullah Saw menceritakan semua yang ia lihat dan rasakaan saat menerima wahyu kepada Khadijah, termasuk bahwa ia diangkat menjadi seorang utusan Allah SWT, Khadijah radhiallahu ‘anha memberikan tanggapan yang luar biasa. Dengan yakin ia menanggapi:“Berbahagialah wahai putra pamanku dan teguhlah engkau. Demi Dzat yang jiwa Khadijah berada di tangan-Nya! Sungguh aku berharap engkau menjadi nabinya umat ini.” (Ibnu Hisyam dalam as-Sirah an-Nabawiyah).
Perkataan indah yang terucap di saat sang suami merasa takut dan sedih. Perkataan yang mampu mengokohkannya di tengah bimbang dan ragu. Ucapan ini mengindikasikan Khadijah tahu akan ada seorang rasul yang diutus. Dan orang yang ia harapkan untuk menjadi rasul itu adalah suaminya sendiri. Dengan demikian, keimanan Khadijah bukan semata keimanan fanatik keluarga, tapi sesuatu yang dibangun dengan ilmu.
Pengetahuan Khadijah tentang kerasulan ini terbukti dengan tidak muncul pertanyaan darinya “Siapa itu Jibril?”, “Apa itu utusan Allah (Rasulullah)?” dll. Ada beberapa riwayat dalam sejarah yang menyatakan bahwa Khadijah telah mengetahui kalau Muhammad bin Abdullah akan diangkat menjadi seorang Rasul. Ia dengar kabar tersebut dari orang-orang Yahudi. Seperti kisah yang dibawakan Ibnu Saad dalam al-Mubtada dan juga diriwayatkan oleh selainnya:
Wanita-wanita Quraisy memiliki hari raya. Mereka biasa berkumpul di masjid untuk merayakannya. Ketika mereka sedang berkumpul datang seorang laki-laki Yahudi dan berkata, “Wahai wanita-wanita Quraisy, hampir saja ada di tengah kalian seorang nabi. Siapa saja di antara kalian yang bisa jadi istrinya, maka lakukanlah”. Wanita-wanita itu tidak mempedulikannya bahkan mengejeknya. Sementara Khadijah hanya terdiam, ia tidak berekspresi seperti wanita Quraisy yang lain. Malah di dalam hati, ia meyakininya. Ketika Maysarah mengabarkan tanda-tanda yang dia lihat (saat bersafar dengan Muhammad), Khadijah mengatakan, “Jika yang dikatakan si Yahudi itu benar, maka inilah tandanya”.
Namun, periwayatannya itu masih lemah, sehingga tidak bisa kita jadikan rujukan. Sementara pengetahuan masyarakat Arab jahiliyah tentang datangnya seorang rasul bisa kita ketahui dari riwayat Imam Ahmad, Rasulullah Saw pernah mengatakan kepada Khadijah:
“Sungguh aku melihat suatu cahaya. Aku mendengar suara. Aku takut kalau aku gila.” Khadijah menjawab, “Tidak mungkin Allah akan membuatmu demikian wahai putra Abdullah.” Kemudian Khadijah menemui Waraqah bin Naufal. Ia ceritakan keadaan tersebut padanya. “Jika benar, maka itu adalah Namus seperti Namusnya Musa. Sekiranya saat dia diutus dan aku masih hidup, aku akan melindunginya, menolongnya, dan beriman kepadanya,” kata Waraqah. (HR. Ahmad 2846).
Dan sebelumnya, Allah SWT telah memberi tanda-tanda yang menunjukkan bahwa pemuda yang bernama Muhammad bin Abdullah berbeda dengan pemuda-pemuda Mekah lainnya. Mulai dari peristiwa pembelahan dada yang dilihat oleh teman-teman sepermainnya. Batu yang mengucapkan salam untuknya. Ada suara yang memanggilnya dari arah langit, lebih dari satu kali. Ini semua sebagai tanda agar mereka tidak menolak dan tahu. Belum lagi dari sisi kepribadiannya. Kemuliaaan akhlak yang begitu luar biasa.
Khadijah menangkap tanda-tanda ini. Tidak menganggapnya sebagai hal biasa yang tanpa hikmah. Karena ketika peristiwa yang lebih ajaib lagi datang kepadanya, ia dengan mudah dan begitu cepat ia beriman kepada risalah kenabian.
