image
Keajaiban Bayi Ibrahim
Setelah Nabi Ibrahim As lahir ke dunia, Ibu-nya sangat bahagia karena melihat bayinya lahir dengan selamat. Ia juga terkagum-kagum karena melihat wajah sang bayi yang elok dan keningnya terpancar cahaya. Di hari Nabi Ibrahim As, ternyata di kampung halaman Ibunda Nabi Ibrahim As sedang terjadi peristiwa yang membuat Raja Namrud gelisah. Karena secara tiba-tiba patung berhala yang menghiasi pusat kota Babilonia roboh, hiasan istana dan pernak-pernik singgasana Raja Namrud juga berjatuhan kemana-mana. Tidak hanya itu saja, burung-burung bergerombol terbang keluar dari sarangnya. Biasanya, hal tersebut terjadi jika akan ada peristiwa yang besar. Dari dalam istana, Raja Namrud menampakkan wajah gelisahnya. Ia takut dan panik jika mimpinya itu menjadi kenyataan. Sementara itu, Ibu Nabi Ibrahim As yang sudah selesai persalinan, segera bersiap-siap meninggalkan gua untuk kembali ke rumahnya di Babilonia. Dengan berat hati, Ia meninggalkan bayi Ibrahim As di dalam gua, Kemudian, Ibunda Nabi Ibrahim As menciumi bayinya sambil menangis dan berkata, "Maafkan Ibunda, Nak. Ibu harus meninggalkanmu. semoga engkau selamat,". Sebenarnya, saat itu Ibunda Nabi Ibrahim As sangat berat untuk meninggalkan bayinya yang baru lahir itu. Tetapi, bahaya besar akan mengancam ia dan bayinya jika bayi tersebut turut dibawa pulang bersamanya. Karena, para tentara Raja Namrud masih berkeliaran di setiap sudut kota. Tujuh hari kemudian, Ibunda Nabi Ibrahim As kembali mendatangi kembali gua tersebut untuk melihat keadaan bayinya. Karena ia khawatir kalau bayinya tidak selamat di dalam gua yang sepi itu. Sesampainya di gua, ia terkejut melihat bayi yang di tinggalkannya itu terlihat sehat dan bugar. Terlebih lagi ketika bayinya itu sedang asik-nya mengisap jarinya yang mengeluarkan madu dan susu. Setelah Ibunya puas menggendong Nabi Ibrahim As dan mencurahkan kasih sayangnya, Nabi Ibrahim As ditinggalkan kembali di dalam gua. Selang tujuh hari kemudian sang Ibu mendatangi kembali gua itu untuk melihat perkembangan bayinya lagi. Hal itu dilakukan seterusnya oleh Ibu Nabi Ibrahim As selama setahun.