image
Ibrahim si Pemikir Cilik
Nabi Ibrahim As menghabiskan masa kecil, tumbuh dan berkembang seperti anak-anak pada umumnya di dalam gua tempat ia di lahirkan selama 12 tahun. Tetapi, tinggal didalam gua yang sepi dengan alam terbuka tidak membuat Nabi Ibrahim As merasa terkucil. Sebaliknya, ia merasa sangat dekat dengan alam. Kesunyian dan keheningan malam sirna dalam sekejap, ketika dirinya melihat cahaya rembulan. Begitupun dengan siang hari, ia berhasil melaluinya dengan damai. Nabi Ibrahim As adalah seorang anak yang pemikir. Pada saat usianya baru 12 tahun, Nabi Ibrahim As berjalan perlahan keluar dari gua. Nabi Ibrahim As sedang mencari jati dirinya. Beliau yakin bahwa tidak mungkin dunia berjalan tanpa ada yang menciptakan dan mengatur. Nabi Ibrahim As sering melamun memikirkan siapa yang menciptakan dan mengatur alam semesta. Ketika malam telah datang dan langit menjadi gelap, Nabi Ibrahim As melihat jutaan bintang bertaburan di langit. Dan Nabi meyakini bahwa itu adalah Tuhannya. Tetapi, ketika melihat bulan, beliau menganggap bulan yang lebih besar itu adalah Tuhannya. Kemudian bulan pun juga lenyap di telan pagi. Sekarang Nabi Ibrahim As melihat matahari yang bersinar sangat terang. Nabi Ibrahim As kembali berpikir dan berkata dalam hati, "Pasti inilah Tuhanku. Ini lebih besar daripada bintang dan bulan". Ternyata matahari juga ikut lenyap di telan gelap. Nabi Ibrahim As pun hanya dapat duduk termangu. Nabi Ibrahim As terus berusaha mencari dan menemukan Tuhannya. Ia pun memasrahkan diri kepada Tuhan, Pencipta langit, bumi dan segala isinya. Nabi Ibrahim As berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberikan petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat." Kemudian, Nabi Ibrahim As berikrar bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa. "Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik." (QS. Al-An'am: 79) Nabi Ibrahim As merupakan anak yang cerdas. Pada masa kecilnya, beliau sudah memikirkan siapa yang menciptakan dan mengatur alam semesta. Semakin hari, operasi perburuan bayi laki-laki oleh para tentara Namrud pun mulai mereda. Nabi Ibrahim As yang sudah lama tinggal du dalam gua pun berencana pulang mencari orangtuanya. Malaikat Jibril yang membimbing Nabi Ibrahim As untuk menemukan rumah orangtuanya. Setibanya di rumah, Ayah dan Ibu Nabi Ibrahim As sangat terkejut. Ayahnya Nabi Ibrahim As (Aazar) sedang memahat patung dan meloncat bahagia saat melihat Nabi Ibrahim As. Secepat kilat, ia beranjak dari tempatnya untuk merangkul Nabi Ibrahim As yang ada dihadapannya itu. Nabi Ibrahim As sangat senang berkumpul bersama orangtuanya. Namun, ada yang mengganjal di hati Nabi Ibrahim As. Karena seisi rumahnya penuh dengan patung-patung berhala. Bahkan ayahnya adalah penyembah sekaligus ahli pembuat berhala yang dipesan raja.