Kedudukan Qais bin Saad Disisi Rasulullah Saw
Qais adalah seorang pembantu, sahabat sekaligus panglima pasukan Rasulullah Saw. Ia adalah tokoh kabilah Khazraj, yaitu putra dari tokoh Khazraj dan Anshar, kakek dan buyutnya pun seorang tokoh Khazraj. Ayahnya adalah seorang sahabat yang mulia, Saad bin Ubadah bin Dulaim radhiallahu ‘anhu. Kakeknya adalah Ubadah bin Dulaim bin Haritsah as-Sa’idi al-Khazraji. Ibunya adalah Ummu Fukaihah binti Ubaid bin Dulaim al-Khazrajiyah.
Keluarganya adalah keluarga terpandang di tengah bangsa Arab. Karena terkenal dengan kedermawanannya.
Amr bin Dinar mengatakan, “Qais adalah seorang yang besar badannya. Kepalanya kecil. Tidak berjenggot. Kalau ia menunggangi keledai, kakinya terseret-seret menyentuh tanah. Ia pernah datang ke Mekah, lalu ada orang yang berkata, ‘Siapa yang ingin membeli daging onta?’ (mengungkapkan besarnya badan Qais).”
Walaupun berbadan besar dan tak berjenggot, tapi Qais adalah seorang yang tampan.
Pada saat ayah Qais (Saad bin Ubadah radhiallahu ‘anhu) memeluk Islam, ia memegang tangan putranya dan membawanya ke hadapan Rasulullah Saw. Kemudian Saad mengatakan: “Ini adalah pembantumu wahai Rasulullah.”
Rasulullah Saw pun memandangi Qais dan melihat aura kebaikan pada dirinya. Kemudian beliau Saw mendekatkan Qais di sisinya. Qais pun menempati kedudukan mulia sebagai orang yang dekat dengan Rasulullah Saw.
Dari Qais bin Saad bin Ubadah, ayahnya menyerahkan Qais kepada Rasulullah Saw untuk menjadi pembantu beliau. Qais berkata, “Rasulullah Saw datang menemuiku, saat itu aku baru selesai dari shalat. Beliau menyentuhku dengan kakinya. Kemudian bersabda, ‘Maukah aku tunjukkan engkau dengan pintu di antara pintu-pintu surga?’ ‘Tentu’, jawabku. Beliau bersabda, ‘(ucapkanlah dzikir) laa haula walaa quwwata illaa billaah’.” (HR. at-Turmudzi dan al-Albani berkomentar ‘Hadits ini shahih’).
Dari Maimun bin Abi Syabib, dari Qais bin Saad radhiallahu ‘anhuma, ia berkata, “Ayahku menyerahkanku kepada Rasulullah Saw agar aku membantu beliau.”
Dari Maryam bin As’ad, ia berkata, “Aku pernah bersama Qais bin Saad. Ia berkhidmat (menjadi pembantu) Rasulullah Saw selama 10 tahun. Ia menyiapkan wudhu dan mengusapkan sepatu beliau.”
Diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwasanya Qais bin Saad bin Ubadah bagi Nabi Saw kedudukannya bagaikan pemiliki syarat di sisi pemimpin. Karena dia diserahkan beberapa urusan. Ketika Kota Mekah berhasil dibebaskan pada tahun 8 H, Saad berkata kepada Rasulullah Saw agar Qays digeser dari posisi yang beliau berikan. Sang ayah khawatir anaknya mengutamakan sesuatu.
Ibnu Syihab mengatakan, “Yang membawa bendera Anshar bersama Rasulullah Saw adalah Qais bin Saad bin Ubadah.” Rasulullah Saw memberinya bendera (kepemimpinan) pada saat pembebasan Kota Mekkah, setelah beliau Saw mencopot ayahnya karena berkata (kepada Abu Sufyan), “Hari ini adalah hari pembalasan. Hari saat yang haram dihalalkan. Dan hari ini Allah menghinakan kaum Quraisy”. Lalu Rasulullah Saw membantahnya dengan sabdanya, “Hari ini adalah hari kasih sayang. Hari dimana Allah muliakan orang-orang Quraisy”.
Allah SWT muliakan mereka dengan memeluk Islam. Siapa yang memeluk Islam, maka ia mulia. Tidak lagi menyembah kepada sesama makhluk (sesama ciptaan). Tapi berganti menyembah kepada sang Khaliq (sang Pencipta). Mereka menjadi merdeka karena terbebas dari penghambaan kepada selain Allah.
Dari ‘Ashim bin Amr bin Qatadah, Rasulullah Saw menugaskan Qais bin Saad bin Ubadah mengambil zakat. Qais bin Saad bin Ubadah radhiallahu ‘anhuma adalah seorang pemimpin yang ditaati, kaya, dermawan, salah seorang sahabat yang utama, orang Arab yang paling berani dan paling dermawan. Ia juga memiliki pemikiran yang bijak dan tepat. Juga pandai dalam strategi perang. Dan keluarganya adalah keluarga yang terpandang.
Abu Umar al-Waqidi mengatakan, “Qais bin Saad bin Ubadah merupakan salah seorang sahabat Rasulullah Saw yang paling dermawan dan paling pemberani. Ia merupakan singanya bangsa Arab. Seorang cendekiawan yang pandai dalam strategi perang. Tak terbantahkan lagi, ia adalah pemuka kaumnya. Dia, ayahnya, dan kakeknya adalah tokoh kaumnya. Dia, ayahnya, dan saudara laki-lakinya, Said bin Saad bin Ubadah adalah sahabat Rasulullah Saw.”
