Khalid bin Walid Berhasil Membebaskan Negeri-negeri di Irak
Setelah Rasulullah Saw wafat, Abu Bakar ash-Shiddiq diangkat menjadi pengganti beliau. Di masa itu, terjadi gelombang pemurtadan. Sebagian kabilah yang dulunya muslim, kemudian keluar dari Islam. Yang dulu, membayar zakat di zaman Nabi Saw, kini tidak lagi menunaikannya. Madinah mendapat ancaman. Kebijakan berani pun harus diputuskan oleh khalifah baru.
Abu Bakar menetapkan kebijakan dan sikap tegas atas pelanggaran ini. Ia mengutus panglima perangnya; Khalid bin al-Walid untuk membungkam pembangkangan. Melalui keputusan tegas Abu Bakar dan kemampuan militer Khalid, Allah SWT kembalikan kewibawaan kaum muslimin di Jazirah Arab.
Setelah khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq merampungkan urusan dalam negeri, mulailah beliau berpikir untuk mengamankan daerah perbatasan. Khususnya wilayah-wilayah yang berdekatan dengan Persia dan Romawi. Karena bukan rahasia lagi, dua kerajaan besar ini tengah mempersiapkan diri menyerang Daulah Islamyah yang baru tumbuh.
Abu Bakar mengutus panglima-panglima terbaiknya untuk mengamankan perbatasan. Khalid bin al-Walid membawa pasukan besar yang berjumlah 10.000 orang menuju Irak. Al-Mutsanna bin Haritsah asy-Syaibani menuju wilayah Hirah. Iyadh bin Ghanam menuju Daumatul Jandal dan kemudian bergabung ke wilayah Hirah. Dan Said bin al-Ash dengan 7000 pasukan menuju perbatasan Palestina. Persia dan Romawi pun dibuat sibuk oleh negara kecil yang berpusat di Madinah itu.
Khalid bin al-Walid berhasil merebut wilayah selatan Irak, kemudian menaklukkan Hirah. Sementara pasukan Iyadh menghadapi kesulitan melawan orang-orang Ghasasinah. Khalid pun datang membantu Iyadh. Setelah itu, ia kembali lagi menuju Irak.
