image
Mereka Yang Mencintai Rasulullah Saw
Suatu hari, Abdullah bin Zaid radhiallahu ‘anhu, sedang berkebun di perkebunannya. Kemudian anaknya datang, mengabarkan kalau Rasulullah Saw telah wafat. Kemudian Ia mengatakan: “Ya Allah, hilangkanlah penglihatanku. Sehingga aku tidak melihat seorang pun setelah kekasihku, Muhammad.” Lalu ia katupkan dua tapak tangannya ke wajah. Dan Allah SWT mengabulkan doanya (Syarah az-Zarqani ‘ala al-Mawahib ad-Diniyah bi al-Manhi al-Muhammadiyah, Juz: 8 Hal: 84). Karena baginya, tak ada pemandangan yang lebih indah bagi para sahabat melebihi memandang wajah Rasulullah Saw. Abdullah bin Zaid ingin, pandangan terakhirnya adalah wajah Rasulullah. Saat memejamkan mata, ia tak ingin ada bayangan lain di benaknya. Ia hanya ingin memunculkan wajah yang mulia itu. Bilal radhillahu ‘anhu, merupakan seorang sahabat dari Habasyah. Muadzin Rasulullah Saw. Cintanya pada sang Nabi terus bertumbuh hingga maut datang padanya. Sadar akan kehilangan Bilal, keluarganya bersedih dan mengatakan, “Betapa besar musibah”! Bilal menanggapi, “Betapa bahagia! Esok aku berjumpa dengan kekasih; Muhammad dan sahabat-sahabatnya.” (Rajulun Yatazawwaju al-Mar-ata walahu Ghairuha, No: 285) Al-Hawari, Abdullah bin Zubair. Apabila ada yang menyebut Rasulullah Saw di sisi Abdullah bin Zubair radhiallahu ‘anhu, ia menangis tersedu, hingga matanya tak mampu lagi meneteskan rindu dan kesedihan (asy-Syifa bi Ta’rifi Huquq al-Musthafa, Hal: 402). Demikian juga dengan sahabiyat (sahabat wanita). Cinta mereka kepada Rasululllah Saw tak kalah hebatnya dari sahabat laki-laki. Ada seorang wanita Anshar; ayah, suami, saudara laki-lakinya gugur di medan Perang Uhud. Bayangkan! Bagaimana perasaan seorang wanita kehilangan ayah, tempat ia mengadu. Kehilangan suami, tulang punggung keluarga dan tempat berbagi. Dan saudara laki-laki yang melindungi. Ditambah, ketiganya pergi secara bersamaan. Alangkah sedih keadaannya. Mendengar tiga orang kerabatnya gugur, sahabiyah ini bertanya, “Apa yang terjadi dengan Rasulullah Saw”? Orang-orang menjawab, “Beliau dalam keadaan baik.” Wanita Anshar itu memuji Allah dan mengatakan, “Izinkan aku melihat beliau.” Saat melihatnya ia berkata, “Semua musibah (selain yang menimpamu) adalah ringan, wahai Rasulullah.” (Sirah Ibnu Hisyam, Juz: 3 Hal: 43). Maksudnya apabila musibah itu menimpamu; kematian dll. Itulah musibah yang berat. Amr bin al-Ash radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Tak ada seorang pun yang lebih aku cintai melebihi Rasulullah Saw. Dan tak ada seorang pun yang lebih mulia bagiku selain dirinya. Aku tidak pernah menyorotkan penuh pandanganku padanya, karena begitu menghormatinya. Sampai-sampai jika aku ditanya, tentang perawakannya, aku tak mampu menggambarkannya. Karena mataku tak pernah memandangnya dengan pandangan utuh.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Iman No: 121). Sebagaimana kita saksikan, seorang pengawal kerajaan menundukkan wajahnya ketika berbicara dengan sang raja. Karena menghormati dan memuliakan rajanya. Amr bin al-Ash lebih-lebih lagi dalam memuliakan dan mengagungkan Nabi Saw. Adakah pengagungan yang lebih hebat dan lebih luar biasa. Selain pengagungan para sahabat Nabi Muhammad Saw terhadap beliau?