image
Apa Yang Membuat Rasulullah Saw Marah?
Rasulullah Saw. merupakan pribadi yang memiliki kesabaran luar biasa. Gelar ulul azmi sebagai bukti nyatanya. Rasulullah Saw tidak marah karena pribadinya dizalimi. Ummul mukminin Aisyah radliallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah Saw, “Apakah engkau menghadapi suatu hari yang lebih berat daripada hari Uhud?” Hari Uhud adalah saat Rasulullah Saw terluka. Wajah beliau yang mulia luka karena hantaman pedang yang membuat helm perangnya bengkok menusuh wajah. Dan gigi beliau patah karena serangan itu. Nyawa beliau terancam. Dan sahabat-sahabatnya gugur di medan perang. Kemudian Rasulullah Saw. menjawab pertanyaan Aisyah dengan menyatakan ada yang lebih berat dibanding hari Uhud. Rasulullah Saw. menjawab, “Aku telah mengalami penderitaan dari kaummu. Penderitaan paling berat yang aku rasakan, yaitu saat di Aqabah…”. Yakni saat beliau berdakwah ke Thaif. Mengajak penduduk Thaif untuk memeluk Islam. Namun dibalas dengan cara yang hina. Mereka mengeluarkan anak-anak dan budak-budak untuk melempari Rasulullah Saw dengan batu. Hingga beliau pingsan menahan luka. Setelah tersadar, Rasulullah Saw ditawari malaikat penjaga gunung, kalau mau membalas. Namun beliau tidak marah. Malah berharap kebaikan untuk penduduk Thaif. Rasulullah Saw. menjawab, “Bahkan aku berharap kelak Allah SWT memunculkan dari tulang rusuk mereka orang-orang yang menyembah Allah SWT”. Kalau derita berat ini tidak membuat beliau marah, tentu yang membuat beliau marah adalah sesuatu yang lebih besar dari peristiwa ini. Ummul mukminin Aisyah meriwayatkan sebuah hadits tentang marahnya Rasulullah Saw:“Pada hari ke-4 atau ke-5 Dzul Hijjah, Rasulullah Saw datang menemuiku dalam keadaan marah. Aku berkata, ‘Siapa yang membuatmu marah wahai Rasulullah? Semoga Allah memasukkannya ke neraka’. Beliau menjawab, ‘Apakah pendapatmu ketika aku memerintahkan orang-orang dengan suatu perintah, lalu mereka bimbang (ragu dalam melaksanakannya)’.” (HR. Muslim). Peristiwa ini terjadi pada haji wada’ tahun 10 H.