image
Asad bin Furat; Seorang Ahli Fikih
Asad bin Furat rahimahullah adalah seorang ahli fikih madzhab maliki. Ialah yang membukukan madzhab Imam Malik rahimahullah. Asad adalah hakim di Qairawan. Ia juga seorang mujahid. Turut serta membebaskan wilayah Sicilia di Italy pada tahun 213 H. Asad bercerita tentang perjalanannya belajar agama: Suatu hari ia pergi ke Madinah, belajar kepada Imam Malik. Lalu menuju Irak dan belajar dari murid-muridnya Imam Abu Hanifah. Di Irak pula ia belajar kepada Muhammad bin Hasan asy-Syaibani. Ribuan orang hadir di majelis Muhammad bin Hasan, sulit bagi Asad untuk bertanya sesuatu yang ia inginkan. Akhirnya ia bisa menyampaikan uneg-unegnya kepada Muhammad bin Hasan. “Aku adalah orang asing (bukan orang Irak) yang sedikit bekalnya. Mendengar ucapanmu (di majelis) sangat sulit karena padatnya jamaah. Dan orang-orang yang belajar denganmu banyak. Adakah solusi untukku?” Muhammad bin Hasan rahimahullah menjawab, “Dengarkanlah bersama orang-orang Irak di siang hari. Malam harinya kukhususkan untukmu saja. Menginaplah di tempatku. Aku akan memperdengarkanmu (ilmu).” Asad bin Furat mengatakan, “Aku pun menginap di rumahnya. Kuletakkan di hadapanku suatu wadah yang berisi air. Mulailah aku belajar. Apabila malam larut, dan aku merasakan kantuk, kubasahi tanganku dan kuusapkan di wajahku, aku pun segar kembali. Itulah caranya dan caraku. Sampai akhirnya aku merasa puas mendengarkan ilmu darinya.” Perhatikanlah kesungguhan dua ulama ini. Bagaimana Muhammad bin Hasan meluangkan waktunya siang dan malam untuk mengajar. Dan ia khususkan malam untuk Asad bin Furat. Mengapa? Karena ia tahu, melalui Asad ilmu yang ia miliki akan tersebar ke negeri yang tidak mampu ia jangkau. Lihat pula kesungguhan Asad bin Furat rahimahullah, ia tidak merasa cukup belajar dari ulama sekelas Imam Malik rahimahullah. Padahal apa yang dia dapat dari Imam Malik sangat banyak. Ia tetap merasa haus dan lapar akan ilmu agama. Sehingga senantiasa mempelajarinya selama masih bernyawa. Diriwayatkan oleh ad-Darimi dengan sanad yang shahih, mursal dari Thawus bin Kaisan rahimahullah, ia berkata, “Rasulullah Saw pernah ditanya, ‘Wahai Rasulullah, siapa orang yang paling berilmu?’ Beliau menjawab, ‘Orang yang mengumpulkan ilmu banyak orang menjadi ilmunya. Setiap pelajar ilmu agama adalah ghartsanu (orang yang lapar, tidak merasa cukup) terhadap ilmu.” (HR. Ad-Darimi, Husain Silmi seorang muhaqqiq Sunan ad-Darimi berkata, “Sanadnya shahih”).