Ketika Maryam Melahirkan Manusia Mulia; Nabi Isa As
Maryam adalah seorang wanita shalihah yang menjaga diri dan kehormatan. Berita tentang kelahiran Nabi Isa As menyebar perlahan. Satu per satu orang tahu, bahwa Maryam yang tak bersuami telah melahirkan anak laki-laki. Saat hendak melahirkan putranya, Maryam menyendiri di ujung timur Masjid al-Aqsha.
“Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh.” (QS:Maryam: 22).
Dan lahirlah nabi Isa As di tempat tersebut.
Kemudian disebutkan, keluarganya pun menanyakan tentang putranya. tentang Isa bin Maryam. Mereka bertanya. "Apakah bisa tanaman tumbuh tanpa benih?". "Bisa. Siapakah yang pertama menciptakan tanaman?" Jawab Maryam. Kemudian mereka kembali bertanya, "Bisakah pohon tumbuh tanpa air?". Kemudian Maryam menjawab,"Bisa. Siapakah yang menciptakan pohon pertama kali?". Dan kemudian mereka bertanya lagi untuk yang ketiga kalinya, "Bisakah seorang anak lahir tanpa seorang ayah?". Maryam menjawab, "Bisa. Sesungguhnya Allah menciptakan Adam tanpa ayah dan ibu", kemudian mereka-pun diam.
Keluarga Maryam adalah orang yang mencintai dan mengenalnya, merekapun tetap mempertanyakan hal tersebut walaupun hanya dihati mereka. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang jauh, orang-orang fasik, apa yang akan mereka katakan tentang hal tersebut?
Manusia dalam keadaan Nabi Isa As terbagi menjadi tiga. Diantaranya:
1. Orang-orang yahudi, Mereka menuduhnya sebagai anak zina, karena menurut mereka Maryam berzina dengan Yusuf an-Najjar.
2. Orang-orang Nasrani, Mereka menganggap Isa sebagai anak Allah. Dan Maha Suci Allah SWT dari yang demikian.
3. Orang-orang Islam, Mereka memuliakan Nabi Isa As sebagai seorang nabi dan rasul. Namun tidak berlebih-lebihan terhadapnya, dengan mengimaninya sebagai hamba Allah SWT.
Kemudian, Maryam pergi ke Betlehem. Saat sampai di sana dan ia berucap, "Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan”. (QS:Maryam: 23).
Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang siapa yang menyeru Maryam dalam ayat ini. Said bin Jubair, adh-Dhahhak, Amr bin Maimun dll. menyatakan bahwa itu Jibril. Mujahid, al-Hasan, dll. menyatakan bahwa Nabi Isa As berbicara kepada Maryam. Ia menghiburnya, ‘Wahai Ibu, janganlah bersedih’. Sang anak menunjukkan bahwa kelahirannya adalah mukjizat dan karunia dari Allah SWT. Maryam pun menjadi tenang.
