Penjelasan Tentang Isra Mi'raj Nabi Muhammad Saw
Secara etimologi, Isra berasal dari kata ‘sara’ yang berarti perjalanan di malam hari. Adapun secara terminologi, Isra adalah perjalanan Nabi Muhammad Saw bersama malaikat Jibril dari Mekkah menuju Baitul Maqdis (Palestina),
Allah SWT berfirman:"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.". (Al-Isra’:1)
Sedangkan Mi'raj dalam bahasa arab artinya semacam alat yang dipakai untuk naik. Secara istilah, Mi'raj berarti tangga khusus yang digunakan oleh Nabi Muhammad Saw untuk naik dari bumi menuju ke sidratul muntaha.
Isra Mi'raj terjadi pada periode akhir kenabian di Mekkah sebelum Rasulullah Saw hijrah ke Madinah. Menurut al-Maududi dan mayoritas ulama, Isra Mi’raj terjadi pada tahun pertama sebelum hijrah, yaitu antara tahun 620-621 M. Menurut al-Allamah al-Manshurfuri, Isra Mi’raj terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-10 kenabian, dan inilah yang populer.
Namun demikian, Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri menolak pendapat tersebut dengan alasan karena Khadijah radhiyallahu anha meninggal pada bulan Ramadhan tahun ke-10 kenabian, yaitu 2 bulan setelah bulan Rajab. Dan saat itu belum ada kewajiban shalat lima waktu. Al-Mubarakfuri menyebutkan 6 pendapat tentang waktu kejadian Isra Mi’raj. Tetapi tidak ada satupun yang pasti. Dengan demikian, tidak diketahui secara persis kapan tanggal terjadinya Isra Mi’raj.
Kisah Isra Mi'raj terbagi dalam 2 peristiwa yang berbeda. Dalam Isra, Nabi Muhammad Saw “diberangkatkan” dari Masjidil Haram menuju ke Masjidil Aqsa. Sedangkan dalam Mi'raj, Nabi Muhammad Saw dinaikkan ke langit sampai ke Sidratul Muntaha yang merupakan tempat tertinggi di semua alam. Di tempat tersebut Beliau mendapat perintah langsung dari Allah SWT untuk menunaikan shalat lima waktu.
Bagi umat Islam, kisah isra mi'raj ini merupakan peristiwa yang berharga, karena ketika inilah shalat lima waktu diwajibkan, dan tidak ada Nabi lain yang mendapat perjalanan sampai ke Sidratul Muntaha seperti Nabi Muhammad Saw.
