image
Kalimat Terakhir Yang Diucapkan 4 Khalifah Sebelum Wafat
Kematian mampu membuat diri yang tadinya gagah menjadi lemah tak berdaya. Kematian juga mampu menundukkan kesombongan dan keangkuhan kita. Tentunya, kita semua menginginkan kematian yang baik dan khusnul khatimah. Maka dari itu, para pendahulu Al-Islam bisa dijadikan sebuah cerminan bagaimana mereka semasa hidup melakukan kebaikan dan wafat dengan amal keshalehan yang berat. Tak salah jika nama dan kisahnya banyak diperbincangkan dari generasi ke generasi seorang muslim. Selain Nabi, salah satu yang dijadikan panutan oleh kaum muslimin adalah para Khulafaur Rasyidin yang terdiri dari 4 sahabat Rasulullah yang menduduki posisi khalifah pengganti kepemimpinan Rasulullah Saw dalam menjalankan syariat Islam. Selain amal kebaikan yang memberatkan timbangan amal shaleh, pesan atau perkataan terakhirnya bisa menjadi sebuah kekuatan yang memotivasi sekaligus membuat diri yang hina ini semakin tidak pantas untuk disombongkan. Berikut ini merupakan kalimat terakhir yang diucapkan 4 Khalifah Sebelum Wafat. Diantaranya: 1. Abu Bakar Ash Shidiq Ayah dari Sayyidah Aisyah, yaitu Abu Bakar Ash Shiddiq pada saat menjelang wafatnya membacakan berulang-ulang ayat Al-Quran surat Qaf ayat 19 yang artinya: “Dan datanglah maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.” Setelah membacakan ayat tersebut, beliau berpesan kepada anaknya yaitu Siti Aisyah agar mencucikan baju yang tengah ia kenakan sambil berkata, “Cucilah dan kafanilah aku karena sungguh orang yang hidup lebih pantas mengenakan pakaian yang baru dibandingkan dengan orang yang sudah menjadi mayit.” Subhanallah, Bagaimana seorang khalifah yang dikenal karena kejujurannya dalam menyakini kenabian Rasulullah Saw lebih mengutamakan keimanan dibandingkan dengan duniawi. Sadarkah kita bahwa selama ini banyak orang mati yang dikafani dengan kafan yang baru? Khalifah pertama tersebut mengajarkan kepada kita bahwa hanya keimanan dan ketakwaanlah yang akan dibawa ke akhirat, bukan kain kafan yang bagus dan baru. 2. Umar Bin Khattab (Al-Faruq) Khalifah yang kedua setelah wafatnya Abu Bakar Ash Shidiq adalah Umar bin Khattab. Beliau merupakan seorang yang pemberani dan ditakuti oleh musuh-musuhnya. Namun kematiannya terlebih dahulu dikarenakan tusukan dari musuh saat sedang menjadi imam shalat. Saat di pembaringan setelah mengalami tusukan, Abdullah bin Abbas r.a mendatangi khalifah yang dikenal dengan sebutan Amirul Mukminin tersebut dan berkata, “Engkau sudah menjadi muslim ketika orang lain masih kafir. Engkau senantiasa berjihad bersama Rasulullah Saw pada saat orang lain bermalas-malasan. Ketika Rasulullah Saw wafat, beliau sudah ridha dengan engkau.” Sambil menahan sakitnya, Umar bin Khattab menyuruh Abdullah bin Abbas untuk mengulang kata-katanya tersebut dan Umar kemudian menimpalinya: “Celakalah orang yang tertipu dengan ucapanmu itu!” Meski Khalifah Umar bin Khattab terkenal karena keshalehannya, ia tidak ingin setan merasuki dirinya dengan sifat kesombongan. Dengan menepis perkataan Abdullah bin Abbas menandakan bahwa Umar tidak ingin sifat sombong ada pada dirinya yang sama-sama hamba Allah. 3. Utsman Bin Affan Khalifah pengganti yang ketiga setelah Umar bin Khattab wafat adalah Utsman bin Affan. Sama seperti Khalifah sebelumnya, Utsman dibunuh oleh musuh Allah dengan sebelumnya dikepung selama empat puluh hari. Ucapan 'Laa ilaha Illallah' mengalir dari mulut Utsman bersamaan dengan mengucurnya darah dari kepala yang menetes hingga ke janggutnya. Ia pun berkata, “Maha suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang yang dzalim. Ya Allah, aku memohon perlindungan-Mu dan pertolongan-Mu atas persoalanku dan aku memohon kepada-Mu agar diberikan kesabaran atas ujian ini.” Sahabat Nabi yang telah dijamin ke dalam golongan ahli surga ini masih tetap rendah hati di saat ajalnya telah dekat. Ia mengaku dzalim dalam doa terakhirnya yang berbanding terbalik dengan para ulama sekarang yang sebagiannya mengaku paling bersih dari dosa dan paling shaleh dibandingkan dengan orang awam. 4. Ali Bin Abi Thalib Tak ada bedanya dengan kematian Umar bin Khattab maupun Utsman bin Affan, kematian Ali bin Abi Thalib yang merupakan menantu dari Rasulullah Saw cukup mengenaskan dengan ditusuk oleh musuh Allah. Dalam kesakitannya ia berpesan kepada orang-orang agar tidak berlaku dzalim terhadap orang yang menusuknya. Pesan beliau adalah, “Berikan makan dan minum. Jika aku mati, pukullah ia dengan sekali pukul saja.” Wasiat terakhir yang membuat kita menjadi malu sendiri adalah ucapannya yang berbunyi, “Jangan berlebih lebihan dalam mengkafaniku. Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, ‘Jangan bermewah-mewahan dalam berkafan sebab yang demikian itu menghimpit dengan keras.” Bandingkan sekarang dimana para pembesar ataupun orang kaya yang matinya dikafani dengan mewah dan dikuburkan dengan berlebih-lebihan. Padahal sesungguhnya hanya amalan si mayit saja yang menjadi bekal kehidupannya kelak di akhirat. Ya Allah semoga kita yang masih hidup ini masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri dan mencontoh para Khalifah yang telah Rasulullah Saw sabdakan akan masuk surga. Semoga kita berakhir dari dunia fana ini dalam keadaan Khusnul Khatimah. Amin...