Kisah Kepahlawanan Thalhah bin Ubaidillah Pada Perang Uhud
Thalhah bin Ubaidillah adalah salah seorang sahabat yang tak pernah absen dalam peperangan, kecuali pada Perang Badar. Ketidakhadiran dalam perang yang menuai kemenangan gemilang itu kemudian dibayar pada Perang Uhud. Dikisahkan dalam buku 60 Orang Besar di Sekitar Rasulullah, Abu Bakar menyebut hari terjadinya Perang Uhud adalah harinya Thalhah.
Ketika keadaan berbalik menjadi dibawah kendali kaum Quraisy, Saat itu barisan kaum muslimin terpecah belah dan kocar-kacir dari samping Rasulullah. Yang tersisa di dekat beliau hanya 11 orang Anshar dan Thalhah bin Ubaidillah dari Muhajirin. Rasulullah dan orang-orang yang mengontrol beliau naik ke bukit tadi dihadang oleh kaum musyrikin. Thalhah yang melihat Rasulullah tengah menjadi sasaran bagi musuh yang berlari ke arah tersebut. Jarak yang sebetulnya dekat namun terasa begitu melelahkan sebab di setiap jengkalnya dipenuhi puluhan pedang dan tombak yang menghadang. Darah yang ia lihat mengalir di pipi Rasul menjadi pelecutnya untuk semakin menguatkan diri menyelamatkan Rasulullah. Thalhah kemudian mampu mengambil posisi di depan nabi untuk mejauhkan pedang-pedang musuh dan memosisikan nabi di tempat aman.
"Aku adalah orang pertama yang sampai ke tempat nabi tetapi beliau berkata kepadaku dan kepada Abu Ubaidah, 'Tolonglah saudaramu!' lalu kami pun melihat ke arah Thalhah dan tiba-tiba kami temukan lebih dari 70-an luka bekas sayatan pedang dan hujaman tombak menghiasi tubuh Thalhah. Kami juga dapati jari-jarinya terputus lalu kami berusaha menyembuhkannya," kata Abu Bakar mengisahkan.
Thalhah lah yang menyangga Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam supaya bisa naik ke atas bebatuan ketika beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam di kepung oleh pasukan Quraisy, sehingga Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam posisi yang aman. Lalu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : Thalhah pasti masuk surga [HR Ibnu Ishâq dengan sanad yang hasan – Ibnu Hisyâm 3/126]. Dalam riwayat lain, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى شَهِيْدٍ يَمْشِي عَلَى وَجْهِ الأَرْضِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى طَلْحَةَ بْنِ عُبَيْدِ الله
Barangsiapa yang ingin melihat syahîd (orang yang mati syahîd) yang masih berjalan di muka bumi maka hendaklah dia melihat Thalhah bin Ubaidillah.” [Syaikh al-Albâni dalam Silsilatul Ahâdîtsish Shahîhah, “Hadits ini diriwayatkan oleh al-Ashbahâni dengan sanad shahîh karena memiliki beberapa riwayat pendukung.”]
Oleh karena itu Thalhah bin Ubaidillah dijuluki "Assyahidul Hayy", atau Syahid yang hidup. Beliau meninggal akibat terpanah pada Perang Jamal. Dikisahkan sewaktu terjadi pertempuran "Al-jamal", Beliau bertemu dengan Ali bin Abu Thalib dan memperingatkan agar ia mundur ke barisan paling belakang. Sebuah panah beracun mengenai betisnya, maka dia segera dipindahkan ke Basrah dan tak berapa lama kemudian karena lukanya ia wafat. Thalhah bin Ubaidillah wafat pada usia 60 tahun dan dimakamkan di suatu tempat dekat padang rumput di Basrah.
Thalhah merupakan seorang yang sukses sebagai pebisnis yang tak segan membagikan hartanya kepada sesama. Pernah pula dia berjalan-jalan di Madinah mengunjungi rumah penduduk satu per satu untuk membagikan harta kekayaannya pada mereka hingga tak tersisa satu dirham pun padanya. Nabi pun menggelarinya sebagai Thalhah yang Dermawan.
Wallahu a'lam Bishawab
