image
Wafatnya Istri Rasulullah Saw; Khadijah Radhiallahu’anha
Kisah kali ini yaitu mengenai kesehatan dari salah satu istri Rasulullah Saw. yaitu Khadijah Radhiallahu’anha yang semakin melemah karena penyakit yang dialaminya semakin parah. Putrinya, yaitu Fatimah dan Ummu Kulstum setia mendampingi sang ibu dengan duduk disampingnya. Rintihan rasa sakit terdengar dari bibir Khadijah, dan air matanya pun tak sanggup menutupi rasa sakitnya. Fatimah tak kuasa menahan air mata yang telah membasahi pipinya. Akan tetapi beliau dengan cepat mengusap air matanya karena tak ingin kesedihannya itu diketahui atau dilihat oleh ibunya. Fatimah dan Ummu Kultsum merasakan sebuah rasa sedih didalam hati mereka atas apa yang dilihatnya bahwa ini adalah ibunya yang penuh kasih sayang dan penuh perhatian. Seseorang yang sangat dicintai oleh ayahnya, yaitu Rasulullah Saw merasa sedih atas apa-apa yang menimpa Khadijah, dan Sayyidatuna Fatimah mengetahui hal itu. Jika ibunya telah pergi, siapakah yang akan menggantikan ibunya? Tidakkah cukup kesedihan ini..? Tidakkah cukup kepedihan ini setelah kepergian Abi Thalib, sedangkan dia adalah orang paling lembut dan sekarang ibunya harus pergi juga. Kemudian, Khadijah dan kedua anaknya saling berbincang-bincang dan memberi wasiat. Khadijah Radhiallahu’anha berkata: “Wahai Fatimah.. Wahai Ummu Kultsum.. Aku merasa ajalku telah tiba.” Sayyidatuna Khadijah terus memberikan wasiat-wasiatnya dan di antaranya yang terpenting dan sangat ditekankan adalah mewasiatkan untuk menjaga dan memperhatikan ayahnya. Kesehatan Sayyidatuna Khadijah semakin melemah dan ajalnya pun sudah sangat dekat. Kemudian, Rasulullah Saw datang menghampiri Sayyidatuna Khadijah yang merupakan seorang istri yang paling dicintainya. Dia adalah wanita yang telah berkorban, dia adalah wanita yang lemah lembut yang menyelimutinya dengan penuh kasih sayang, dan membenarkannya ketika turun wahyu. Dia adalah wanita yang selalu penuh perhatian.