Kisah Kekhilafan Hatib Ibnu Balta’ah
Hatib Ibnu Balta’ah berasal dari Yaman. Beliau bukanlah seorang yang kaya raya dan juga bukan seorang bangsawan. Meskipun demikian, ia adalah orang yang taat kepada perintah Allah SWT dan Rasul-Nya. Ia menyertai perjuangan Rasulullah SAW dalam perang Badar, menemani Rasulullah Saw dalam perjanjian Hudaibiah, dan ikut serta dalam Baiat Ar-Ridhwan. Hatib juga berhijrah dari Mekkah ke Madinah. Ketika itu, ia tidak membawa anak dan saudara-saudaranya ke Madinah.
Pada suatu masa, Rasulullah Saw merencanakan untuk menaklukkan kota Mekkah. Mengetahui hal itu, Hatib menjadi risau. Ia sangat khawatir dengan keselamatan anak dan saudaranya dari penindasan para kaum Quraisy. Apalagi, mereka bukanlah orang Quraisy. Akhirnya, Hatib memutuskan untuk memberitahu rencana Rasulullah dan kekuatan tentaranya kepada orang-orang Quraisy. Dengan demikian, ia berharap agar anak dan saudaranya di Mekkah tidak diganggu oleh orang-orang Quraisy.
Ia menulis surat kepada beberapa orang musyrik Quraisy di Mekkah. Dalam suratnya Hatib memberitahu tentang rencana Rasulullah dan kekuatan tentara Rasulullah SAW. Ia meminta seorang perempuan untuk membawa surat tersebut ke Mekkah. Sementara itu, Malaikat Jibril telah memberitahukan kepada Rasulullah Saw tentang surat Hatib tersebut. Untuk itu Rasulullah meminta Ali bin Abi Thalib dan Zubair bin Awwam pergi ke daerah Raudhah Khah. Rasulullah bersabda, “pergilah kamu ke kebun khah. Di sana ada seorang perempuan membawa surat. Ambil surat itu dan bawa surat itu kepadaku”. Setelah mendapat perintah demikian, Ali dan Zubair segera bergegas menunggang kuda untuk mengejar perempuan tersebut.
Benar saja, di daerah Raudhah Khak, mereka melihat seorang perempuan menunggang unta. Mereka segera menghadang perempuan itu dan meminta surat. Awalnya, perempuan itu mengelak dengan mengatakan bahwa dirinya tidak membawa surat. Ali memeriksa hewan kendaraannya, tetapi ia tidak menemukannya. Kemudian, Ali bin Abi Thalib berkata: “Demi Allah, Rasulullah tidak pernah berdusta. Apakah aku harus menelanjangi dirimu agar dapat menemukan surat itu?". Mendengar ancaman itu, perempuan itu ketakutan dan menyerahkan surat Hatib tersebut.
Kemudian, Ali dan Zubair segera kembali ke Madinah. Ia menyerahkan surat itu kepada Rasulullah Saw. Di tempat itu, Rasulullah telah memanggil Hatib. Saat surat sudah berada di tangan Rasulullah, Rasulullah Saw. bersabda, “Wahai Hatib, apakah ini?”. Kemudian Hatib menjawab dengan terbata-bata, “Janganlah tergesa-gesa menghukum aku, ya Rasulullah. Dengarlah penjelasanku terlebih dahulu. Aku memiliki kawan-kawan dari golongan kafir Quraisy, tetapi aku bukanlah golongan mereka. Hal itu aku lakukan bukan karena kufur atau murtad. Saya ingin melakukan sesuatu untuk mereka sehingga mereka akan menjaga anak dan saudaraku yang berada di Mekkah”.
Kepada orang-orang yang hadir ditempat itu, Rasulullah bersabda, “Dia telah mengatakan yang sebenarnya”.
Kemudian, Umar bin Khattab meminta izin agar dirinya diperbolehkan menghukum dengan memenggal kepala Hatib. Menurut Umar, seorang pengkhianat Allah dan Rasul-Nya pantas mendapatkan hukuman mati. Namun, Rasulullah Saw tidak sependapat dengan Umar. Hatib adalah salah seorang pejuang dalam perang Badar. Sementara Allah SWT memberi kelonggaran kepada semua pejuang Badar. Rasulullah Saw juga mengatakan bahwa Hatib adalah salah seorang yang ikut dalam Baiat Ar-Ridhwan (janji setia kepada Rasulullah). Dengan pertimbangan itu, Rasulullah Saw memaafkan Hatib. Hatib pun bersyukur dengan keputusan Rasulullah Saw. Sejak peristiwa itu, ia tidak henti-hentinya memohon ampunan kepada Allah SWT.
