Mush’ab Bin Umair Gugur Di Medan Perang Uhud
Pada suatu masa, Rasulullah Saw menyeru kaum Muslim untuk bersiap diri menumpas musuh Allah SWT di medan perang Uhud. Kaum Muslim menyambut seruan Rasulullah Saw dengan penuh semangat. Saat mengatur barisan tentara muslim, Rasulullah Saw menunjuk Mush’ab bin Umair sebagai pembawa panji tentara Islam. Peperangan di Uhud berlangsung dengan dahsyat. Pada awalnya, tentara Quraisy terdesak hingga harus mundur dari medan perang. Namun, Khalid bin Walid dan pasukannya berhasil memanfaatkan keadaan dengan baik. Saat para pemanah Muslim meninggalkan pos-posnya, pasukan Khalid berhasil menerobos pertahanan tentara Muslim. Tentara Quraisy yang sudah mundur kembali lagi ke medan perang. Keadaan pun menjadi terbalik. Tentara muslim terdesak di pusat pertahanan mereka.
Dengan mengangkat panji perang, Mush’ab bertakbir dengan lantang. Ia melakukan hal itu dengan terus menerus mengibaskan pedangnya ke arah musuh. Sebenarnya, hal itu ia lakukan untuk mengalihkan perhatian musuh dari Rasulullah Saw. Ia menyadari bahwa tentara musuh mengincar Rasulullah Saw. Mush’ab terus menerus menyerang musuh, tanpa mempedulikan betapa besarnya kekuatan musuh. Dalam pikirannya hanyalah ingin menyelamatkan Rasulullah Saw. Tentara musuh semakin banyak yang menyerang dirinya. Namun, Mush’ab terus bertahan. Seorang tentara Quraisy yang bernama Ibnu Qumaiah berhasil menebas tangan kanan Mush’ab. Beberapa saat kemudian, tentara musuh juga berhasil memotong tangan kirinya. Setiap tangannya terpotong, Mush’ab berteriak, “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sunguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul”. Cintanya kepada Rasulullah Saw tidak terbatas, ia begitu cemas memikirkan nasib Rasulullah Saw. Untuk menghibur dirinya, ia mengucapkan kata-kata itu. Kemudian, tentara musuh menyerang dengan tombak. Mush’ab yang sangat mencintai Rasulullah Saw pun gugur tanpa mengetahui kepastian keselamatan Rasulullah Saw.
Saat peperangan telah berakhir, jasad Mush’ab ditemukan dengan wajah tertelungkup. Seakan-akan, ia takut melihat sesuatu yang dikhawatirkan benar-benar terjadi pada diri Rasulullah Saw. Air mata Rasulullah Saw bercucuran ketika menyaksikan jasad Mush’ab. Didepan jasad Mush’ab, Rasulullah Saw membacakan ayat 23 surat Al-Ahzab, yang artinya: “Diantara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah SWT, maka diantara mereka ada yang gugur”.
Jasad Mush’ab dikafani menggunakan burdah (sejenis jubah dari bulu domba). Burdah itu tidak mampu menutupi seluruh jasad Mush’ab. Saat burdah menutup kepala, bagian kaki tidak tertutup oleh burda. Saat burdah ditarik untuk menutup kaki, bagian kepala akan terlihat. Kemudian, Rasulullah Saw memerintahkan agar bagian kakinya ditutup dengan rumput. Rasulullah Saw memandang ke arah jasad Mush’ab dan bersabda, “Dahulu ketika di Mekkah, aku tidak melihat seorang pun lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya dari padanya (Mush’ab). Namun saat ini, rambutmu kusut, (tubuhmu) hanya dibalut dengan sehelai burdah”.
Kemudian, Rasulullah Saw melayangkan pandangannya ke seluruh jasad-jasad para syuhada dan bersabda, “Sungguh aku akan menjadi saksi pada hari kiamat nanti bahwa tuan-tuan semua adalah syuhada di sisi Allah”. Kepada para sahabat yang masih hidup, Rasulullah mengingatkan pengorbanan Mush’ab. Mush’ab bin Umair mengorbankan kesenangan duniawi untuk mencari keridhaan Allah SWT.
