image
Saat Aisyah Istri Rasulullah Saw Diftnah
Pada suatu ketika, Aisyah ra mengikuti Rasulullah Saw dan tentara Muslim untuk memerangi Bani Mushaliq. Dalam perjalanan pulang, mereka berhenti untuk beristirahat. Saat itu, Aisyah turun dari unta untuk suatu keperluan. Kemudian, ia kembali naik unta. Namun, ia kehilangan kalungnya. Ia pun kembali turun dari unta. Setelah menemukan kalungnya, ia kembali ke tempat unta. Namun rombongan telah pergi. Mereka tidak menyadari bahwa Aisyah tidak ada di atas untanya. Aisyah menunggu di tempat itu dan berharap rombongan akan menjemputnya. Kemudian, Safwan bin Al-Mu’attal melewati tempat itu. Safwan bertugas mengawal tentara Islam dari belakang rombongan itu. Safwan terkejut melihat Aisyah berada di tempat itu dan berkata, “Inna lillahi wa inna ilahi raji’un, isteri Rasulullah!”. Kemudian, ia meminta Aisyah naik ke untanya. Ia berjalan kaki sambil memegang tali unta. Ketika sampai di Madinah, Aisyah menceritakan kejadian itu kepada Rasulullah Saw. Dan Rasulullah Saw tidak mempermasalahkan hal itu. Akan tetapi, kaum munafik di Madinah memanfaatkan kejadian itu untuk menyebarkan fitnah. Mereka menyebarkan berita bahwa Aisyah berselingkuh dengan Safwan. Mendengar fitnah itu, Aisyah sangat bersedih hati. Kemudian, Aisyah memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya untuk sementara. Ketika Rasulullah Saw mendatangi Aisyah di rumah orang tuanya; Abu Bakar, Aisyah masih menangis. Kemudian, Rasulullah Saw meminta Aisyah untuk bertuabat. Aisyah berkata, “Demi Allah, aku tidak akan bertaubat kepada Allah. Mengapa aku harus bertaubat, sementara aku tidak berbuat salah?!!! Aku benar-benar tidak melakukan perbuatan yang mereka tuduhkan”. Rasulullah Saw bingung dalam menghadapi fitnah itu. Akhirnya, Allah SWT menurunkan firmannya dalam Surat An-Nur ayat 11, yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa diantara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar”. Ayat ini menjelaskan bahwa berita itu tidak benar. Rasulullah Saw, Aisyah dan kaum Muslim lainnya sangat senang mendengar isi dari ayat tersebut.